BELAJAR “KETEGASAN” DARI ABU BAKAR R.A
Abu Bakar R.A merupakan salah seorang Sahabat Nabi yang paling utama. Beliau merupakan Khalifah Rasulullah yang pertama. Abu Bakar R.A dikenal sebagai sosok yang lembut dan bersahaja, sangat halus budi dan perasaannya. Perawakannya kurus, dan memiliki bekas diwajahnya yang disebabkan seringnya beliau menangis karena mengingat Rabb-nya. Abu Bakar R.A merupakan orang paling banyak membebaskan budak termasuk Bilal bin Rabbah ketika disiksa oleh tuannya. Kelemah lembutannya tidak hanya kepada orang beriman, bahkan juga kepada musuh Islam. Hal tersebut tercermin ketika suatu ketika setelah terjadinya perang, terdapat banyak tawanan, beliau mengusulkan untuk dibebaskan saja dengan tebusan meskipun ada sahabat yang berpendapat agar “dieksekusi” saja karena khawatir para tawanan tersebut akan kembali memerangi umat Islam. Namun sikap lemah lembut itu tidak muncul setelah sepeninggalnya Rasulullah yakni ketika pada perang Riddah, ketika banyak muncul para “Mangkir Zakat” dan Murtadin. Abu Bakar R.A mengambil tindakan tegas dengan memerangi para “Pemangkir Zakat” tersebut. Barangkali Abu Bakar R.A menyadari “Bahaya Besar” jika hal tersebut dibiarkan. Zakat merupakan bagian Sistem Islam yang apabila “diruntuhkan” sama saja dengan meruntuhkan Islam, karena umat ini dengan sendirinya akan melemah karena kehilangan “Daya material” yang berdampak sistemik.
Disisi lain, Tindakan Abu Bakar R.A telah mengokohkan “ke-Tsikoh-an” kaum Muslimin atas kepemimpinan beliau, yakni (mengutip pendapat Imam Asy Syahid Hasan Al Banna) :
ketenangan ‘jundi’ (perajurit dakwah) terhadap ‘qiyadah’nya dalam hal kemampuannya dan keikhlasannya yang menjadikannya semakin :
- Cinta.
- Menghargai.
- Menghormati.
- Taat.
Allah swt berfirman :
“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap keputusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya”. (QS An-Nisaa’ : 65)
Wallahu A’lam bis showab.